Skip to main content

Menajem Resiko " Cukupkah "


Untuk Kegiatan Alam Terbuka  Manajemen Risiko Saja Tidak Cukup




Oleh Suyatno

Pembina Gugusdepan


Untuk hasil terbaik, yakni meningkatnya kreativitas, percaya diri, dan kebahagiaan diri dari pengalaman kegiatan alam terbuka, manajemen risiko saja tidak cukup. Manajemen risiko hanya membentengi agar aman dan selamat akan, saat, dan setelah kegiatan. Jika hanya konsentrasi di manajemen risiko, seseorang akan mendapatkan rasa was-was, khawatir, dan hanya cari amannya saja. Manajemen risiko tugasnya memberikan asuransi keselamatan semata. Lama-kelamaan zona aman menjadi pembiasaan. Pada akhirnya, kreativitas dan inovasi yang bersandar pada keberanian menemukan jalan buntu. 


Ada tiga manajemen lagi yang diperlukan dalam kegiatan alam terbuka. Ketiga manajemen itu adalah manajemen dampak, manajemen interpersonal, dan manajemen antarpersonal. Ketiga manajemen itu terhubung dan tersambung dengan manajemen risiko. 


Manajemen dampak terkait dengan hasil yang akan diperoleh dari kegiatan alam terbuka itu. Jika hasilnya kabur, tidak jelas,  dan hanya memeroleh capek saja, percuma saja kegiatan alam terbuka. Manajemen dampak bersinggungan dengan tujuan yang dicapai dan dampak positif setelah tujuan itu diraih. Contohnya, sebelum kegiatan alam terbuka, peserta didik ragu-ragu dan takut. Namun, setelah mengikuti kegiatan alam terbuka peserta didik menjadi tegas dan berani. Oleh karena itu, pembina perlu mengkalkulasi tujuan kegiatan. Tujuan perlu dianalisis sampai pada penentuan komponen yang diperlukan dalam rangka pencapaiannya. Manajemen dampak perlu dilakukan dengan sempurna.


Manajemen interpersonal terkait dengan skill atau kecakapan individu di alam terbuka. Manajemen interpersonal diawali dari need asesment peserta didik. Seberapa mampu berjalan, berkegiatan tali dan alat lain, mendaki, meloncat, memanjat, dan sebagainya sesuai dengan hasil survei. Kecakapan peserta didik perlu dilatihkan dan dirutinkan sebelum di alam terbuka. Jadi, tidak boleh tanpa persiapan, peserta didik diajak langsung ke alam terbuka semisal hutan atau gunung. Manajemen interpersonal dijalani oleh pembina dan peserta didik secara simultan dan kuat.


Terakhir, manajemen antarpersonal perlu dikuatkan agar peserta didik dapat berkomunikasi dengan tepat dan benar. Sedikit saja seseorang salah berkomunikasi di hutan tentu akan berakibat fatal. Apalagi, di alam terbuka diperlukan berkelompok untuk memudahkan dan melancarkan. Ilmu komunikasi perlu didalami mereka agar terjadi kebersamaan saat di alam tetbuka. Saling menerima, memberi, dan menyadari memberikan bumbu keberhasilan.


Nah, manajemen risiko saja tidak cukup, bukan? Marilah mendidik anak melalui media alam terbuka dengan empat manajemen risiko. Jika hanya manajemen risiko saja yang digarap hasilnya akan landai saja.

#kakyatno

Comments

Popular posts from this blog

Membuat Lomba Pioneering

Pionering merupakan bagian dari materi kegiatan kepramukaan yang sangat penting. Materi ini adalah materi wajib yang harus dikuasai oleh setiap anggota Pramuka. Bentuk pioneering juga bermacam-macam dari bentuk yang mudah sampai bentuk yang sulit. Masing-masing bentuk juga memiliki kegunaan yang berbeda. Selain itu pioneering juga dapat melatih keterampilan dan kemampuan seorang Pramuka. Kemampuan tersebut meliputi kemampuan dasar tali temali, kemampuan untuk berkreasi dan kemampuan untuk berimajinasi. Dengan latar belakang tersebut  akhirnya muncul lomba pioneering. Dalam artikel ini saya akan coba menjelaskan cara membuat lomba pioneering yang baik dan benar. Menentukan Model Lomba Sebelum membuat lomba hal pertama yang perlu dipersiapkan adalah menentukan model pioneering apa yang akan dilombakan. Ada 3 macam model lomba yang biasa digunakan yaitu model klasik, model bertema dan model bebas. Model tersebut masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan. 1. M...

Pelatih Berjiwa Ikhlas

 ðŸŒ¿ Renungan Pelatih Berjiwa Ikhlas Saudara-saudaraku  Pelatih pembina pramuka "Tidak semua bhakti terlihat, tidak semua pengabdian mendapat tepuk tangan. Tapi setiap ketulusan akan menemukan jalannya menuju keberkahan." Menjadi pelatih bukan tentang gelar, bukan pula tentang pujian. Tapi tentang hati yang rela menuntun, membimbing, dan menemani setiap langkah anak didik menuju masa depan. Ikhlas itu ketika kita tetap hadir meski tak disebut, tetap memberi meski tak dipuji, tetap tersenyum meski lelah menyapa. Tugas pelatih bukan sekadar mentransfer ilmu, tapi menyalakan semangat, membentuk karakter, dan menanamkan nilai. Itu pekerjaan sunyi… Tapi di sanalah letak kemuliaannya. Ketika lelah datang, ingatlah… Bahwa setiap waktu yang kau habiskan untuk membina, adalah investasi abadi yang tak akan hilang ditelan zaman. Ketika kecewa menyapa, sadarlah… Bahwa kau sedang menanam di ladang kebaikan yang akan panen Tuhan. Jadilah pelatih yang menanam dengan cinta, membina dengan sab...

KATA HIKMAH BADEN POWELL

 KATA HIKMAH BADEN POWELL   1.            R.S.S. BADEN POWELL, (Bapak pandu dunia, 1857 - 1941),  "Yang perlu diperhatikan bahwa anak bukanlah selembar cek kosong untuk diisi dengan keinginan orang dewasa" (Aids to Scout Mastership,Kepramukaan dalam Praktek).   2.            R.S.S. BADEN POWELL, (Bapak pandu dunia, 1857 - 1941),  "Pembina pramuka itu tidak bisa membuat suatu tanaman tumbuh ke atas dengan nanya menarik batangnya" (Aids to Scout Mastership,Kepramukaan dalam Praktek).   3.            R.S.S. BADEN POWELL, (Bapak pandu dunia, 1857 - 1941),  “Metode kita cenderung mendidik daripada memberikan instruksi dengan melalui permainan-permainan, kegiatan-kegiatan yang menarik, tetapi benar-benar membina moral, mental dan fisik (Our method of training is to educate from  within rather than to instruct from without; to offer games and activities which, while...